Senin, 12 Oktober 2020

GURU DI BALIK KERINDUAN ANAK-ANAK KAKTUAN MENGGAPAI HARAPAN MEMELUK BUMI

 Oleh : Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum.

(Dosen FKIP UNDANA – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)


Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum.


Membaca judul buku ‘Jejak Pengabdian di Pelosok Nusantara’ ini, saya teringat pengalaman mengasesmen Program Calistung (Baca-Tulis-Hitung) sebagai indikator ‘Tidak Buta Aksara’ di Distrik Tiom Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua pada tahun 2011. Sebagai pendidik pada jenjang Pendidikan Tinggi (Dosen), dan pernah pula sebagai guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pilu rasanya menapaki dunia pendidikan yang penuh dengan nestapa di negeri kaya tambang yang disemangati oleh mimpi anak-anaknya yang samar-samar. Ketika itu, saya membayangkan masa sekolah saya di tahun 1970-an di Adonara, Flores Timur. Masa kecil saya di tahun 1970-an, ternyata masih lebih baik daripada masa kecil anak-anakku  di Tiom pada tahun 2011, pada saat Indonesia sedang bercita-cita menjadi sepuluh besar kekuatan ekonomi dunia. Tidak ada yang salah dengan kondisi ini, karena soal kemajuan ada yang cepat dan lambat, bahkan ada yang terasa seperti tidak bergerak maju.

Kamis, 17 September 2020

MENULIS ITU SUSAH?

 

Ilustrasi Menulis (sumber ; Google)



Kata guruku,

"Ndak sulit, Mas. Menulis itu tidak sulit jika belum dimulai".

"Terus apa yang harus saya tulis? Belum ada ide yang bisa saya tuangkan ke dalam tulisan".

Guruku menjawab,

"Belum ada ide untuk menulis?, mulailah untuk menulis apapun yang bisa Anda tulis. Meskipun Anda tidak tahu harus menulis apa, maka tulislah apa yang Anda tidak tahu itu". 

 

Minggu, 13 September 2020

DARI DIKESARE SAMPAI LAMADALE, LEWOLERA YANG HAMPIR TERLUPAKAN

Kampung Lewolera (Google Earth)


Kampung Lewolera. Namanya mungkin tidak tersohor seantero Pulau Lembata. Mungkin juga, sebagian dari masyarakat Lembata belum pernah mendengar nama kampung ini. Lewolera, sebuah kampung kecil dalam wilayah administratif Kecamatan Lebatukan. Berada dalam wilayah gugus Leragere.

Leragere yang dalam bahasa Lamaholot terdiri atas dua kata yaitu  lera (matahari) dan gere (naik) yang dalam keyakinan masyarakat setempat berarti tempat ‘Matahari Terbit’. Masyarakat Leragere adalah sekelompok etnis yang terdiri dari delapan kampung yaitu Lewo Eleng, Lewolera, Lodoblolong, Atakowa, Lewota’a, Lewodoli, Lewoheba dan Balurebong (lebih dikenal dengan sebutan Nobo Buto atau Delapan Kampung). Mata pencaharian dari masyarakat Leragere adalah bertani, dengan sistim ladang berpindah-pindah (tebas bakar). Karena harus menyesuaikan iklim, di mana musim kemaraunya lebih mendominasi musim hujan, seperti wilayah NTT pada umumnya. Sistim perkawinan yang dianuti masyarakat Leragere adalah Patrilineal.  Masyarakat ini dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Lamaholot dialek  Leragere. Masyarakat Leragere ini juga mempunyai karakteristik hidup dan kebiasaan adat istiadat yang sama pula.