Kamis, 17 September 2020

MENULIS ITU SUSAH?

 

Ilustrasi Menulis (sumber ; Google)



Kata guruku,

"Ndak sulit, Mas. Menulis itu tidak sulit jika belum dimulai".

"Terus apa yang harus saya tulis? Belum ada ide yang bisa saya tuangkan ke dalam tulisan".

Guruku menjawab,

"Belum ada ide untuk menulis?, mulailah untuk menulis apapun yang bisa Anda tulis. Meskipun Anda tidak tahu harus menulis apa, maka tulislah apa yang Anda tidak tahu itu". 

 

Minggu, 13 September 2020

DARI DIKESARE SAMPAI LAMADALE, LEWOLERA YANG HAMPIR TERLUPAKAN

Kampung Lewolera (Google Earth)


Kampung Lewolera. Namanya mungkin tidak tersohor seantero Pulau Lembata. Mungkin juga, sebagian dari masyarakat Lembata belum pernah mendengar nama kampung ini. Lewolera, sebuah kampung kecil dalam wilayah administratif Kecamatan Lebatukan. Berada dalam wilayah gugus Leragere.

Leragere yang dalam bahasa Lamaholot terdiri atas dua kata yaitu  lera (matahari) dan gere (naik) yang dalam keyakinan masyarakat setempat berarti tempat ‘Matahari Terbit’. Masyarakat Leragere adalah sekelompok etnis yang terdiri dari delapan kampung yaitu Lewo Eleng, Lewolera, Lodoblolong, Atakowa, Lewota’a, Lewodoli, Lewoheba dan Balurebong (lebih dikenal dengan sebutan Nobo Buto atau Delapan Kampung). Mata pencaharian dari masyarakat Leragere adalah bertani, dengan sistim ladang berpindah-pindah (tebas bakar). Karena harus menyesuaikan iklim, di mana musim kemaraunya lebih mendominasi musim hujan, seperti wilayah NTT pada umumnya. Sistim perkawinan yang dianuti masyarakat Leragere adalah Patrilineal.  Masyarakat ini dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Lamaholot dialek  Leragere. Masyarakat Leragere ini juga mempunyai karakteristik hidup dan kebiasaan adat istiadat yang sama pula.