Senin, 12 Oktober 2020

GURU DI BALIK KERINDUAN ANAK-ANAK KAKTUAN MENGGAPAI HARAPAN MEMELUK BUMI

 Oleh : Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum.

(Dosen FKIP UNDANA – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)


Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum.


Membaca judul buku ‘Jejak Pengabdian di Pelosok Nusantara’ ini, saya teringat pengalaman mengasesmen Program Calistung (Baca-Tulis-Hitung) sebagai indikator ‘Tidak Buta Aksara’ di Distrik Tiom Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua pada tahun 2011. Sebagai pendidik pada jenjang Pendidikan Tinggi (Dosen), dan pernah pula sebagai guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pilu rasanya menapaki dunia pendidikan yang penuh dengan nestapa di negeri kaya tambang yang disemangati oleh mimpi anak-anaknya yang samar-samar. Ketika itu, saya membayangkan masa sekolah saya di tahun 1970-an di Adonara, Flores Timur. Masa kecil saya di tahun 1970-an, ternyata masih lebih baik daripada masa kecil anak-anakku  di Tiom pada tahun 2011, pada saat Indonesia sedang bercita-cita menjadi sepuluh besar kekuatan ekonomi dunia. Tidak ada yang salah dengan kondisi ini, karena soal kemajuan ada yang cepat dan lambat, bahkan ada yang terasa seperti tidak bergerak maju.

Saya mencoba membingkai tulisan ini dari sebuah ‘Harapan Memeluk Bumi’ dari anak-anak  di pedalaman Pulau Buru dalam sebuah empati yang mendalam agar pembaca tidak hanya membaca sejarah dengan kekosongan hati, tetapi menjejakinya dengan sarat makna. Mereka anak bangsa yang punya harapan dan masa depan. Pundak mereka juga siap menopang masa depan Indonesia, sama dengan teman-teman seusia mereka seantero Indonesia. Mereka jugalah benang-benang halus yang ikut merajut Indonsia dalam kemajemukan. Guru Garis Depan terpanggil untuk mengubah tatapan kosong mereka, menjadi sebuah harapan yang tidak mustahil untuk digapai.

Penulis mungkin terlahir dengan tidak mempunyai cita-cita menjadi seorang guru, apalagi guru di pedalaman Provinsi Maluku. Tapi perjalanan hidup seorang bukan semata-mata ditentukan oleh cita-cita setiap insan; ada tangan yang tak kelihatan yang telah menggariskan semua pilihan hidup manusia. Takdir tak bisa diajak kompromi dengan berbagai pertimbangan. Mengakhiri studi jenjang sarjananya pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bertepatan dengan diluncurkannya Program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) oleh Kemenristekdikti. Kebetulan saya terlibat langsung dalam perdebatan sengit soal lulusan LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang tidak masuk dalam penyelenggara Program SM-3T. Perdebatan hingga berujung demontrasi dan pengerahan massa mahasiswa ke Kantor Gubernur NTT dan Gedung DPRD Provinsi NTT membuahkan hasil.

Setelah NTT masuk dalam daftar  provinsi yang turut menyiapkan dan mengirimkan guru SM-3T, dan UNDANA ditunjuk sebagai penyelenggara,  maka nasib Petrus Pito menjadi berubah. Banyak lulusan LPTK yang (mungkin sampai hari ini) masih menganggur,  sosok Petrus Pito termasuk dalam daftar pelamar yang lolos seleksi untuk menjadi guru di Daerah 3T. Kegelisahan tentang masa depan perlahan-lahan berubah menjadi harapan yang masih membersitkan kekhawatiran dan penuh penasaran tentang daerah 3T itu. Mendengar 3T sudah tentu tidak menarik bagi siapa pun yang ingin mengadu nasib karena tidak ada hal yang menjanjikan di sana. Namun, panggilan profesi berbicara   secara berbeda, bahkan terbalik dengan soal mengadu nasib.

Pengalaman selama dua tahun di Daerah 3T di Kalimantan Utara pada tahun 2012-2014 telah memoles rasa empatinya terhadap anak-anak kampung yang membutuhkan secuil pengetahuan untuk meraih mimpi memeluk bumi. Artinya, mereka memerlukan guru untuk membelajarkan mereka untuk mencermati dan memahami hidup sacara total agar menjadi manusia intelek, berakhlak, berbudi luhur dan beradab, serta bebagai cirri karakter ke-Indonesiaan.

Bercita-cita atau tidak untuk berprofesi sebagai guru, realita menunjukkan bahwa putera Lembata (Lomblen) ini sudah terlanjur mencintai dunia pendidikan. Suka atau tidak suka, guru adalah pilihan profesi yang saat ini mengantarnya ke Pulau Buru melalui Program Afirmasi Kemendikbud yaitu Guru Garis Depan (GGD). Nasib burukkah? Sudah  tentu tidak, namun pindah dari daerah 3T ke Daerah Garis Depan hanyalah polesan terminologi yang maknanya sama, atau hampir sama, atau setidak-tidaknya beda tipis bagaikan membedakan  penyu dan kura-kura. Tiga T dan Garis Depan telah menjadi meda untuk mengabdikan diri bagi anak-anak yang dunia dan kesehariannya sangat  jauh dari sentuhan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni).

Di tengah terpaan globalisasi yang membuat sebagian anak muda memiliki cara berpikir instan, pola hidup hodonis, dan cenderung anomi (gamang nilai), Petrus Pito memilih jalur hidup dengan proses yang rumit dan melelahkan untuk menggapainya. Betapa tidak, kisah yang dituangkan di bawah judul: ‘Jejak Pengabdian di Pelosok Nusantara’ menjadi bukti bahwa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang instan dan gampang diperoleh. Nilainya pun tidak gamang, jelas, yakni mengabdi untuk Nusantara dalam mendorong kemajuan dan mengubah masa depan anak-anak kampung terpencil. Perhatian, cinta, persaudaraan, kekeluargaan, toleransi, dan kepedulian diabdikan secara total, setotal harapan anak-anak dan masyarakat Kampung Kaktuan, Desa Waemite.

Semangat pengabdiannya yang kuat menenggelamkan perasaannya sebagai ‘Orang Buangan’. Rasa empatinya yang kuat telah mengubah perasaannya sebagai  ‘Orang Buangan’ ataupun ‘Orang Yang Dibuang’, dan telah menjadi sosok yang ‘Membuang Dirinya’ di tengah mimpi anak-anak Kampung Kaktuan untuk memeluk bumi. Semangatnya telah pula mengubah kesendiriannya menjadi sebuah kebersamaan dalam kemajemukan yang toleran. Kini ia tidak sendirian meskipun pada awalnya ia sering  ‘Merasa Sendirian’.

Buku ini merupakan refleksi profesi penulis yang tengah berkelana batin sebagai anak desa. Terlahir dari desa yang jauh dari kemeriahan dan hingar-bingar kehidupan modern, setalah meraih gelar Sarjana Pendidikan, ia memilih ‘Kembali ke Desa’. Demi anak-anak Kaktuan yang ingin mewujudkan mimpi memeluk bumi, ia rela meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya.

Selamat berjuang Guru Muda, catatkan dirimu sebagai Pahlawan Anak Desa, ‘Bumi Kaktuan Dipijak, Langit Kaktuan Pulalah Yang Dijunjung’. Dengan begitu, tugasmu sukses, pengabdianmu bermakna, dan profesimu menjadi lebih mulia, serta perjuanganmu diabadikan dalam sejarah, setidak-tidaknya menjadi cerita untuk generasi penerus di Kaktuan. (pitoatu27)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar