Minggu, 13 September 2020

DARI DIKESARE SAMPAI LAMADALE, LEWOLERA YANG HAMPIR TERLUPAKAN

Kampung Lewolera (Google Earth)


Kampung Lewolera. Namanya mungkin tidak tersohor seantero Pulau Lembata. Mungkin juga, sebagian dari masyarakat Lembata belum pernah mendengar nama kampung ini. Lewolera, sebuah kampung kecil dalam wilayah administratif Kecamatan Lebatukan. Berada dalam wilayah gugus Leragere.

Leragere yang dalam bahasa Lamaholot terdiri atas dua kata yaitu  lera (matahari) dan gere (naik) yang dalam keyakinan masyarakat setempat berarti tempat ‘Matahari Terbit’. Masyarakat Leragere adalah sekelompok etnis yang terdiri dari delapan kampung yaitu Lewo Eleng, Lewolera, Lodoblolong, Atakowa, Lewota’a, Lewodoli, Lewoheba dan Balurebong (lebih dikenal dengan sebutan Nobo Buto atau Delapan Kampung). Mata pencaharian dari masyarakat Leragere adalah bertani, dengan sistim ladang berpindah-pindah (tebas bakar). Karena harus menyesuaikan iklim, di mana musim kemaraunya lebih mendominasi musim hujan, seperti wilayah NTT pada umumnya. Sistim perkawinan yang dianuti masyarakat Leragere adalah Patrilineal.  Masyarakat ini dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Lamaholot dialek  Leragere. Masyarakat Leragere ini juga mempunyai karakteristik hidup dan kebiasaan adat istiadat yang sama pula.

Kembali ke Kampung Lewolera. Yang sebelumnya (di bawah tahun 1999, bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Lembata sebagai sebuah daerah otonom yang melepaskan diri dari kabupaten induknya, yaitu Flores Timur) merupakan bagian dari Desa Dikesare yang tergabung dengan dua kampung lainnya yaitu Tapolangun dan Lewolein. Setelah melepaskan diri dari desa induk, terbentuklah desa persiapan yang dinamakan Desa Lamadale. Setelah terbentuk menjadi salah satu desa persiapan, langsung dinahkodai oleh seorang penjabat kepala desa pertama yang dimandatkan kepada Almarhum Bapak Philipus Demon Atu yang sebelumnya menjabat pula sebagai kepala dusun. Dua tahun berjalan sebagai desa persiapan, tepat di tahun 2001 silam diadakan pemilihan kepala desa perdana. Almarhum Bapak Philipus Demon Atu terpilih kembali dan melanjutkan tongkat kepemimpinan sebagai kepala desa. Periode pertama dan ke dua kepemimpinan beliau, namun tidak sampai pada puncak masa jabatannya. Karena memilih untuk menjadi seorang pendidik (guru) melalui testing penerimaan CPNS di tahun 2004.

Tongkat kepemimpinan selanjutnya diberikan kepada Ibu Anastasia Gea Atawolo. Mungkin juga, ini menjadi yang pertama dalam sejarah Kabupaten Lembata. ‘Srikandi Perempuan’ pertama yang memegang tongkat kepemimpinan sebagai Kepala Desa. Beberapa tahun roda pemerintahan di bawah kendali Srikandi ini, tepat di tahun 2007 diadakan pemilihan kepala desa untuk yang ke tiga kalinya. Di luar dugaan, yang menjadi kepala desa terpilih adalah Saudara Yoseph Paulus Bura Bataona (yang kesehariannya biasa disapa Yoppi Bataona).  Lagi-lagi, masa kepemimpinan Saudara Yoppi Bataona ini tidak sampai pada puncak masa kepemimpinannya. Beliau memilih mundur sebelum masa jabatannya berakhir karena mengundurkan diri untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legistatif di tahun 2009. Selanjutnya beberapa kali estafet kepemimpinan dalam desa dilanjutkan oleh Penjabat Kepala Desa yang ditunjuk. Tepat di tahun 2015, dalam pemilihan kepala desa serentak terpilihlah saudara Yohanes Sasi Olepue. Dan sampai dengan saat sekarang, masa kepemimpinan beliau untuk periode pertamanya masih berjalan.

Kembali melihat jauh ke belakang. Era sebelum tahun 2000, Kampung Lewolera yang dulu bukanlah seperti yang sekarang. Kampung yang nyaris terisolir. Penduduk kampung tersebut sulit menjangkau daerah luar, apalagi akses menuju kota. Jangankan kota kabupaten. Untuk menuju kota kecamatan saja, masyarakat harus bersusah payah berjalan kaki sejauh 7 km menyusuri jalan setapak yang terjal, menuruni lembah menuju kampung terdekat Tapolangun untuk menunggu akses kendaraan. Supaya bisa bepergian ke kota kecamatan maupun kota kabupaten.

Jika sebelumnya saat malam menjelang, satu per satu lampu-lampu pelita berbahan minyak tanah di rumah-rumah warga yang letaknya berdekatan itu dinyalakan, berkelap-kelip tak ubahnya kelompok kunang-kunang di kegelapan malam. Kampung ini, sekarang resmi dialiri listrik selama 24 jam. Tetapi, sebetulnya untuk penerangan dalam kampung, sejak tahun 1997 masyarakat sedikit sudah memanfaatkan lampu listrik bertenaga diesel.

Kebutuhan akan air  bersih, jika sebelumnya masyarakat harus berjalan kaki dari kampung menuju ke sungai yang letaknya sedikit lebih rendah dari kampung yang berjarak kurang lebih 600 meter. Kini, dengan mudahnya masyarakat bisa menikmati air bersih langsung di dalam kampung. Masing-masing rumah sudah terpasang keran yang tersambung pipa-pipa mengitari pinggiran jalan raya yang sudah dibeton memanfaatkan bantuan dana desa. Berkat dampingan Yayasan PLAN INTERNASIONAL yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lembata yang bergerak di Bidang Sanitasi, Yayasan ini rela mendatangkan mesin buatan Jerman yang harganya ratusan juta. Sekaligus mendatangkan teknisinya juga dari Inggris. Sekarang sumber air sudah dekat. Masyarakat tidak lagi harus bersusah payah menuruni lembah menuju kali hanya sekedar mendapatkan air bersih.

Seiring berjalannya waktu, berbagai macam kebijakan dan perhatian pemerintah untuk pembangunan perlahan namun pasti. Perubahan dalam kampung mulai terlihat. Akses jalan perlahan mulai terhubung dengan kampung-kampung tetangga. Jalanan beraspal sudah membentang dari kota kabupaten hingga ke depan rumah warga. Kendaraan roda dua maupun empat sudah bisa dijangkau. Untuk bepergian ke kota, sudah bisa menumpang kendaraan langsung dari depan rumah masing-masing. Begitu pun masyarakat, mereka berlomba-lomba memiliki kendaraan roda dua bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Roda perputaran ekonomi mulai hidup.

Pembangunan fisik dengan memanfaatkan kucuran dana dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Alokasi Dana Desa (ADD) seakan terasa besar manfaatnya yang dirasakan masyarakat. Saya yang hampir setiap liburan pulang ke kampung, seolah merasakan perbedaan di kampung. Mulai dari segi suasana kampung, orang-orangnya hingga bangunan rumahnya. Saya tak menyangkal bahwa perubahan itu penting. Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan dan termasuk dalam hukum alam, bahwa manusia itu mengalami perubahan dan perkembangan. Selagi perubahan itu ke arah kemajuan dan perkembangan saya memaknainya dengan positif.

Dalam bidang pemerintahan, Kampung Lewolera sendiri juga turut mengantarkan dua orang ‘Putra Terbaiknya’ menduduki posisi penting dalam lingkup Pemerintahan Kabupaten Lembata. Adalah Petrus Gero, S.Sos., yang terpilih menjadi Anggota Legislatif sejak tahun 2009 silam, saat kini menduduki puncak pimpinan legislatif (Ketua DPRD Kabupaten Lembata Periode 2019-2024) dan Paskalis Ola Tapobali, AP., MT., yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata. (pitoatu27)

bersambung…

 



8 komentar:

  1. Terima kasih, sudah meperkenalkan Lewolera ke persada nusantara. Banyak orang lupa bahkan tidak mau meperkenalkan kampung halamannya. Semoga semua orang sadar bahwa mengenal dunia ini mulainya dari Lewotana kita tercinta. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okkkk Terimakasih juga Pastor, mohon dukungannya...

      Hapus
  2. Luar biasa Ade guru.lebih sukses LG kedepannya .

    BalasHapus