Kampung
Lewolera. Namanya mungkin tidak tersohor
seantero Pulau Lembata. Mungkin juga, sebagian dari masyarakat Lembata belum
pernah mendengar nama kampung ini. Lewolera, sebuah kampung kecil dalam wilayah
administratif Kecamatan Lebatukan. Berada dalam wilayah gugus Leragere.
Leragere yang dalam bahasa Lamaholot terdiri atas dua kata yaitu lera (matahari) dan gere (naik) yang dalam keyakinan masyarakat setempat berarti tempat ‘Matahari Terbit’. Masyarakat Leragere adalah sekelompok etnis yang terdiri dari delapan kampung yaitu Lewo Eleng, Lewolera, Lodoblolong, Atakowa, Lewota’a, Lewodoli, Lewoheba dan Balurebong (lebih dikenal dengan sebutan Nobo Buto atau Delapan Kampung). Mata pencaharian dari masyarakat Leragere adalah bertani, dengan sistim ladang berpindah-pindah (tebas bakar). Karena harus menyesuaikan iklim, di mana musim kemaraunya lebih mendominasi musim hujan, seperti wilayah NTT pada umumnya. Sistim perkawinan yang dianuti masyarakat Leragere adalah Patrilineal. Masyarakat ini dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Lamaholot dialek Leragere. Masyarakat Leragere ini juga mempunyai karakteristik hidup dan kebiasaan adat istiadat yang sama pula.
Kembali
ke Kampung Lewolera. Yang sebelumnya (di bawah tahun 1999, bersamaan dengan
terbentuknya Kabupaten Lembata sebagai sebuah
daerah otonom yang melepaskan diri dari kabupaten induknya, yaitu Flores Timur)
merupakan bagian dari Desa Dikesare yang tergabung dengan dua kampung lainnya
yaitu Tapolangun dan Lewolein. Setelah melepaskan diri dari desa induk,
terbentuklah desa persiapan yang dinamakan Desa Lamadale. Setelah terbentuk
menjadi salah satu desa persiapan, langsung dinahkodai oleh seorang penjabat
kepala desa pertama yang dimandatkan kepada Almarhum Bapak Philipus Demon Atu
yang sebelumnya menjabat pula sebagai kepala dusun. Dua tahun berjalan sebagai
desa persiapan, tepat di tahun 2001 silam diadakan pemilihan kepala desa
perdana. Almarhum Bapak Philipus Demon Atu terpilih kembali dan melanjutkan
tongkat kepemimpinan sebagai kepala desa. Periode pertama dan ke dua
kepemimpinan beliau, namun tidak sampai pada puncak masa jabatannya. Karena
memilih untuk menjadi seorang pendidik (guru) melalui testing penerimaan
CPNS di tahun 2004.
Tongkat
kepemimpinan selanjutnya diberikan kepada Ibu Anastasia Gea Atawolo. Mungkin
juga, ini menjadi yang pertama dalam sejarah Kabupaten Lembata. ‘Srikandi
Perempuan’ pertama yang memegang tongkat kepemimpinan sebagai Kepala Desa.
Beberapa tahun roda pemerintahan di bawah kendali Srikandi ini, tepat di tahun
2007 diadakan pemilihan kepala desa untuk yang ke tiga kalinya. Di luar dugaan,
yang menjadi kepala desa terpilih adalah Saudara Yoseph Paulus Bura Bataona
(yang kesehariannya biasa disapa Yoppi Bataona). Lagi-lagi, masa
kepemimpinan Saudara Yoppi Bataona ini tidak sampai pada puncak masa
kepemimpinannya. Beliau memilih mundur sebelum masa jabatannya berakhir karena
mengundurkan diri untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legistatif di tahun
2009. Selanjutnya beberapa kali estafet kepemimpinan dalam desa dilanjutkan
oleh Penjabat Kepala Desa yang ditunjuk. Tepat di tahun 2015, dalam pemilihan
kepala desa serentak terpilihlah saudara Yohanes Sasi Olepue. Dan sampai dengan
saat sekarang, masa kepemimpinan beliau untuk periode pertamanya masih
berjalan.
Kembali
melihat jauh ke belakang. Era sebelum tahun 2000, Kampung Lewolera yang dulu
bukanlah seperti yang sekarang. Kampung yang nyaris terisolir. Penduduk kampung
tersebut sulit menjangkau daerah luar, apalagi akses menuju kota. Jangankan
kota kabupaten. Untuk menuju kota kecamatan saja, masyarakat harus bersusah
payah berjalan kaki sejauh 7 km menyusuri jalan setapak yang terjal, menuruni
lembah menuju kampung terdekat Tapolangun untuk menunggu akses kendaraan.
Supaya bisa bepergian ke kota kecamatan maupun kota kabupaten.
Jika
sebelumnya saat malam menjelang, satu per
satu lampu-lampu pelita berbahan minyak tanah di rumah-rumah warga yang
letaknya berdekatan itu dinyalakan, berkelap-kelip tak ubahnya kelompok
kunang-kunang di kegelapan malam. Kampung ini, sekarang resmi dialiri listrik
selama 24 jam. Tetapi, sebetulnya untuk penerangan dalam kampung,
sejak tahun 1997 masyarakat sedikit sudah memanfaatkan lampu listrik bertenaga
diesel.
Kebutuhan
akan air bersih, jika sebelumnya masyarakat harus berjalan kaki dari
kampung menuju ke sungai yang letaknya sedikit lebih rendah dari kampung yang
berjarak kurang lebih 600 meter. Kini, dengan mudahnya masyarakat bisa
menikmati air bersih langsung di dalam kampung. Masing-masing rumah sudah
terpasang keran yang tersambung pipa-pipa mengitari pinggiran jalan raya yang sudah
dibeton memanfaatkan bantuan dana desa. Berkat dampingan Yayasan PLAN
INTERNASIONAL yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lembata yang
bergerak di Bidang Sanitasi, Yayasan ini rela mendatangkan mesin buatan Jerman
yang harganya ratusan juta. Sekaligus mendatangkan teknisinya juga dari
Inggris. Sekarang sumber air sudah dekat. Masyarakat tidak lagi harus bersusah
payah menuruni lembah menuju kali hanya sekedar mendapatkan air bersih.
Seiring
berjalannya waktu, berbagai macam kebijakan dan perhatian pemerintah untuk
pembangunan perlahan namun pasti. Perubahan dalam kampung mulai terlihat. Akses jalan perlahan mulai terhubung dengan
kampung-kampung tetangga. Jalanan beraspal sudah membentang dari kota kabupaten
hingga ke depan rumah warga. Kendaraan roda dua maupun empat sudah bisa
dijangkau. Untuk bepergian ke kota, sudah bisa menumpang kendaraan langsung
dari depan rumah masing-masing. Begitu pun masyarakat, mereka berlomba-lomba
memiliki kendaraan roda dua bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Roda
perputaran ekonomi mulai hidup.
Pembangunan
fisik dengan memanfaatkan kucuran dana dari pemerintah pusat melalui Dana
Alokasi Khusus (DAK) dan Alokasi Dana Desa (ADD) seakan terasa besar manfaatnya
yang dirasakan masyarakat. Saya yang hampir setiap liburan pulang ke
kampung, seolah merasakan perbedaan di kampung. Mulai dari segi suasana
kampung, orang-orangnya hingga bangunan rumahnya. Saya tak menyangkal bahwa
perubahan itu penting. Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan dan termasuk
dalam hukum alam, bahwa manusia itu mengalami perubahan dan perkembangan.
Selagi perubahan itu ke arah kemajuan dan perkembangan saya memaknainya dengan
positif.
Dalam bidang pemerintahan, Kampung Lewolera sendiri juga
turut mengantarkan dua orang ‘Putra Terbaiknya’ menduduki posisi penting dalam
lingkup Pemerintahan Kabupaten Lembata. Adalah Petrus Gero, S.Sos., yang terpilih
menjadi Anggota Legislatif sejak tahun 2009 silam, saat kini menduduki puncak
pimpinan legislatif (Ketua DPRD Kabupaten Lembata Periode 2019-2024) dan
Paskalis Ola Tapobali, AP., MT., yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris
Daerah Kabupaten Lembata. (pitoatu27)
bersambung…

Asyikk
BalasHapusTerima kasih, sudah meperkenalkan Lewolera ke persada nusantara. Banyak orang lupa bahkan tidak mau meperkenalkan kampung halamannya. Semoga semua orang sadar bahwa mengenal dunia ini mulainya dari Lewotana kita tercinta. Salam
BalasHapusOkkkk Terimakasih juga Pastor, mohon dukungannya...
HapusMantap ama. Sukses trs
BalasHapusOkkkk Ama, semoga sukses juga Youtubeenya
HapusMantap guru...Sukses slalu
BalasHapusTerimakasih Guru, mohon dukungannya seniorku
HapusLuar biasa Ade guru.lebih sukses LG kedepannya .
BalasHapus